About

Kajian SENSOR

Kajian SENSOR atau kajian senin sore adalah pengajian rutin 2 minguan untuk Pelajar Muslim SMA Negeri 2 Yogyakarta

RISPER

Kharisma Newspaper atau yang lebih sering disebut RISPER adalah sebuah media dakwah tempel yang di pasang di tiap kelas SMA Negeri 2 Yogyakarta

Khawama

Khawama atau Kharisma Wall Magazine adalah buat karya anak-anak Pengurus Kharisma yang digunakan sebagai media pendidikan Islam

Pengajian Idul Adha

Pengajian Idul Adha 1432 H SMA Negeri 2 Yogyakarta

Masjid Ash-Shidiq

Masjid Ash-Shidiq SMA Negeri 2 Yogyakarta

Showing posts with label Tazkiyatun Nufus. Show all posts
Showing posts with label Tazkiyatun Nufus. Show all posts

Saturday, 9 June 2012

Mengingat Allah

Allah lah yang membuat kita mampu tersenyum walau dalam keadaan menangis.
Tempat bertahan ketika kita hendak menyerah.
Tempat berdoa ketika hilang tempat mengadu dan ketika semua orang menjauh.
Tempat untuk kembali bangkit sekalipun hati kita telah hancur berkali-kali.
Tempat untuk tetap mengerti ketika tak ada satupun terlihat memberi arti.

Segala sesuatu menjadi mungkin karena Allah lebih memahami kita melebihi diri kita

Ketika wajah penat memikirkan dunia, maka berwudhulah.
Ketika pundak tak kuasa memikul amanah maka bersujudlah.
Ikhlaskannya agar semuanya tunduk, disaat yang lain angkuh,
agar tangguh disaat yang lain runtuh,
agar tegar disaat yang lain terlempar,
dan ingat hanya Allah lah tempat kita untuk bergantung.

Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir.

"Ingatlah, dengan mengingat Allah dapat menentramkan hati" (Ar-Ra'd : 28)

Wednesday, 7 March 2012

Jika Manusia Biasa ingin Masuk Surga

Sungguh luar biasa perjuangan mereka yang diberi karunia Allah sebagai manusia ideal dalam meraih tempat abadi yang dijanjikan, yakni surga. Rasanya kita sebagai manusia biasa tidak pantas untuk memasukinya, namun betapa takutnya dan ngerinya jika kita harus berada di dalam neraka.

Kita yakin bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia Dzat yang Bijaksana dan Maha Pengampun. Surga-Nya bukan dibuat untuk manusia-manusia ideal saja, kitapun sebagai manusia biasa juga diberi peluang untuk memasukinya. Kita yang biasa ini oleh Allah tidak dipaksa untuk menjadi orang yang berbuat di luar kapasitasnya. Kita hanya dituntut berbuat sesuai dengan kesanggupan kita asal mau berusaha untuk menjalani proses.

“Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah, dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”  (QS: 64:16)

Dengan keterbatasan dan kelemahan, kita masih bersyukur, karena Allah memberikan peluang itu. Dengan rahmat-Nya dan ampunan-Nya kita berharap memasuki surga-Nya tidak seberat dan sesulit mereka ;
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, jangalah Engkau hukum kami jika kami lupa dan tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami beban yang kami tidak sanggup memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS:2:286)

Jika manusia ideal mampu berbuat dengan segala kebaikannya, maka kita yang lebih banyak kekurangannya ketimbang kelebihannya ini, mampu menunjukkan bahwa sekecil apapun kelebihan yang kita miliki ini bisa kita syukuri untuk meniti jalan ke surga. Kita tidak berkecil hati karena Allah menghibur kita dengan firman-Nya:
“Katakanlah,”Tiap-tiap orang berbuat sesuai dengan keadaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS:17:84)

Idealnya, berjihad dengan masuk surga itu dengan harta dan jiwanya. Namun jika kita tidak bisa dua-duanya, apakah kita akan menyia-nyiakan salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kalau tidak bisa dengan harta dan jiwa sekaligus seperti manusia-manusia yang ideal, mengapa kita tidak berjihad dengan harta kita atau jiwa kita? Sudah waktunya kita berfikir bagaimana patungan masuk surga.

Source : Ustadz Didik Puwodarsono. 2004. Patungan Masuk Surga. Yogyakarta: Pustaka Salma, hlm 20-23

Tuesday, 7 February 2012

Surga Dibawah Telapak Kaki Ibu

Surga Dibawah Telapak Kaki Ibu - Dari Abu Hurairah ra, ia menceritakan, suatu hari ada seorang yang datang kepada Nabi Muhammad seraya bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab: “Ibumu!” Orang itu bertanya lagi: “Lalu siapa?” “Ibumu!” jawab Beliau. “Lalu siapa lagi, ya Rasulullah?” tanya orang itu. Beliaupun menjawab “Ibumu!” Selanjutnya orang itu bertanya lagi: “Lalu siapa?” Belia menjawab: “Ayahmu.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Hadits di atas memerintahkan agar kita senantiasa berbuat baik pada kerabat terutama adalah ibu, lalu ayah. Didahulukannya ibu karena ia telah mengandung, menyusui, mendidik dan tugas berat lainnya. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya setelah dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu (Q.S. Luqman:14). Karena beratnya tugas orang tua, maka seorang anak diwajibkan untuk memperlakukan mereka dengan baik, bahkan membantahnya dengan kata-kata “Ah” pun tidak diperkenankan.

Pengorbanan seorang ibu tidak dapat diukur dengan materi. Ketika melahirkan kita, ia berkorban darah dan berjuang antara hidup dan mati, bahkan ada ungkapan yang menyatakan andai pada saat-saat kritis melahirkan kita, seorang ibu diminta untuk memilih antara nyawanya dengan nyawa anaknya, maka seorang ibu akan memilih menyelamatkan anaknya dari nyawanya sendiri. Ia rela menaggung rasa sakit sembari menyusui anaknya dengan ikhlas. Selanjutnya ia mengasuh dan mendidik kita hingga dewasa. Pada saat bulan Ramadhan, bagi kita yang masih tinggal bersama Ibu, ketulusan dan kebaikannya sangat terasa. Disaat kita masih terlelap tidur, ia telah menyiapkan makanan sahur untuk kita, disaat kita santai sore ia telah menyiapkan buka puasa. Begitupun seorang ayah, demi masa depan anak-anaknya, ia berusaha menafkahi keluarga dengan sebaik-baiknya dengan daya dan upaya yang maksimal. Terlepas semua itu sebagai kewajiban orang tua, kita wajib menghargai mereka dengan sebaik-baiknya. Rasulullah pernah bertanya pada para sahabat: “Maukah aku beritahu dosa yang paling besar di antara dosa-dosa yang besar?” Para sahabat menjawab: “Mau, ya Rasulullah!” Beliau berkata: “Syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua”. Di masyarakat kita dikenal petuah Ridha Allah tergantung pada Ridha Orang tua. Bahkan mendahulukan keperluan ibu lebih baik dari melaksanakan shalat sunnah. Sehingga wajar jika “surga itu di bawah telapak kaki ibu” karena durhaka kepada orang tua merupakan dosa paling besar setelah syirik yang tentunya akan menghalangi pelakunya masuk surga.

“Surga di bawah telapak kaki ibu” Apakah hanya berarti bahwa jika ingin masuk surga seorang anak harus berbuat baik pada ibu bapak?. Tidak!, pada sosok seorang ibu juga melekat tanggung jawab yang berat. Jika kita artikan secara bebas, “surga di bawah telapak kaki ibu” dapat juga berarti bahwa masa depan seorang anak di akhirat nanti sangat tergantung pada ibu, ibu sebagai seorang pendidik, ibu sebagai seorang suri tauladan keseharian bagi anak-anaknya, sehingga seorang ibu sangat berperan dalam mengantarkan mereka masuk surga. Lalu mengapa “surga di bawah telapak kaki ibu” bukan telapak tangan ibu atau di kepala ibu? Secara tersirat kaki berarti tindakan dan tingkah laku (akhlaq). Artinya, akhlaq seorang ibu sangat mempengaruhi akhlaq seorang anak dan akhlaq inilah yang akan menentukan masa depanya di dunia dan di akhirat. Wajarlah jika Rasulullahh berpesan pada setiap orang tua: “Tiada yang ditanam oleh orang tua kepada anaknya yang lebih baik daripada akhlaq yang mulia”. Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarga sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak, kemudian kedua orangtuanya dengan sifat-sifat yang lebih khusus. Pada orang tua, terlebih lagi pada diri seorang ibu melekat kewajiban untuk mendidik secara aktif putra-putrinya. Anak telah menghabiskan waktu sembilan bulan di dalam perut ibunya, memperoleh makanan dari tubuh, ruh dan darah ibunya, maka ibu sebagai pihak yang paling dekat dengan anak hendaknya tidak melewatkan interaksi kesehariannya dengan sang anak dalam konteks pendidikan.

Orang tua hendaknya mengajarkan bagaimana mengenal dan mencintai Allah, mengajari ibadah, dan menanamkan akhlaq yang mulia. Karena “sesungguhnya setiap bayi yang lahir dalam keadan fitrah, kedua orang tuanyalah yang mencetak anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau menjadi Majusi” (HR. Bukhari Muslim). Dalam hal pembentukan akhlaq, prinsip dan pemikiran moral harus didasarkan pada aqidah Islam. Atas dasar inilah ibu hendaknya berusaha menguatkan bangunan moral, ketaqwaan, dan kesucian pada diri anak sehingga mengantarkan mereka bahagia di dunia dan akhirat. Rasulullah pernah bersabda: “Dan wanita adalah pemimpin terhadap keluarga rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka” (HR. Bukhari Muslim).

Begitu berat tugas orang tua terutama ibu dalam mendidik anak. Sehingga diperlukan seluruh potensi kebaikan pada diri ibu, diperlukan pengetahuan dan pengetahuan praktis tentangnya. Ibu, sebagaimana juga ayah, perlu mengetahui prinsip dasar pendidikan anak, baik yang bersifat fundamental dalam syariat Islam maupun ilmu pengetahuan umum yang terus berkembang. Semoga kita semua dapat menjadi orang tua yang menjadi tauladan bagi generasi muslim selanjutnya. “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (Q.S. At-Tahrim:6) “Surga di bawah telapak kaki ibu”. Pada diri ibu terletak tanggung jawab besar mengantarkan anaknya ke surga dengan memberikan pendidikan terbaik. Ibu adalah teladan, ibu adalah contoh sempurna dalam akhlaq dan tindakan. Kebahagiaan dan kesengsaraan anak baik di dunia maupun di akhirat sangat dipengaruhi oleh sosok seorang ibu. Semoga Allah memberikan balasan yang berlipat ganda atas keikhlasan seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, dan mendidik putra-putrinya. Wallahu a’alm bisshawab.

Source: http://forumislamekonomi.blogspot.com

Thursday, 26 January 2012

Pribadi Muslim Unggul

Hakikat unggul dan unggulan adalah sebuah “proses”. Proses adalah sesuatu yang harus dijalani dan diikuti. Bukan sesuatu yang given jatuh dari langit atau diperoleh dengan cara by passing (tiba-tiba). Hal inilah yang melandasi Michael Hart dalam bukunya Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah  memilih dan mengakui bahwa generasi sahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah generasi terbaik yang pernah ada dalam sejarah umat manusia (ukhrijat linnas).

Mengapa bisa demikian? Tak lain karena keberhasilan Rasulullah dalam proses membentuk sebuah sosok masyarakat ideal, khalifatul fil ardy.

Namun bagaimana caranya? Penelitian membuktikan, bahwa keunggulan seorang manusia ditentukan oleh banyak elemen kehidupan, terutama indra yang dimilikinya termasuk mata hati. Elemen kehidupan ini mempunyai peranan penting dalam proses pengamatan, investigasi, pendengaran, penelitian dan pengembangan diri.

Dengan berfikir tentang alam semesta (atau dalam bahasa Al-Quran yatafakkaruna fi khalqissamawati wal ardy) maupun berzikir mengingat Allah (Yadzkuruunallah) secara maksimal dapat melahirkan manusia unggul dan unggulan.

Bisa dibayangkan, ketika pada hati seorang muslim tertanam kokoh bahwa Allah tujuan dari segala tujuan hidupnya. Lalu melaksanakan shalat sebagai upaya formatting sekaligus character building (pembentukan sifat, sikap dan karakter diri). Kemudian ditambah training pada setiap bulan Ramadhan sebagai self controlling (control dan kendali diri). Maka, semestinya dalam kalangan muslim akan muncul generasi-generasi unggul yang mampu menghadapi segala macam tantangan zaman. Subhanallah.

Belum lagi dengan keseterdiaan networking (jaringan dan kepedulian) yang dibangun melalui zakat, yang merupakan sebuah strategic collaboration. Dan terakhir diformulasikan dalam total action (ketundukan, kepasrahan dan rela berkorban demi sang Maha Agung) yakni suatu kerja terpadu dan mengglobal, yang diimplementasikan dalam ibadah haji. Maka lengkap sudah teori manajemen diri dari Islam.

Namun pertanyaannya, mengapa keunggulan itu tidak muncul pada generasi kita? Padahal syahadat telah kita ulang setiap hari, shalat sehari lima kali, puasa wajib sebulan dalam setahun, zakat terus mengalir, dan jutaan hujjaj bertawaf mengelilingi ka’bah tiada henti? Adakah yang hilang dari kita? Apa yang salah? Apakah dengan ketiadaan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersama kita merupakan alasan yang sah untuk berkata ‘kita pantas kalah’?

TENTUNYA TIDAK. Karena ada satu makna yang tersembunyi dibalik kata unggul yang belum kita eksplorasi. Makna itu adalah kualitas.

Akan selalu adsa suatu batu uji empiris atau aktivitas ibadah mahdhah kita. Dan ini menentukan bagi timbangan kualitas kita. Apapun klaim kita atas Mission Statement, Character Building, Self Controlling, Networking, Strategic Collaboration, Total Action yang tersembunyi di balik syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji kita. Pada ghalibnya dia akan diuji pada wilayah public-empiris di masa hidup dan kelak di alam akhirat. Termasuk juga ibadah ghairu madhah (ibadah sosial) yang profan.

Kedua terminal pengujian ini mempunyai kriteria yang sama, yakni kualitas dari sudut kebenarannya (itqanul amal) dan dari sudut keikhlasannya (ikhlasunniyah). Di mana yang satu berkaitan dengan ‘profesionalitas’ dan yang lain berkaitan dengan kemurnian komitmen kepada Allah yang Maha Pencipta. Perpaduan kedua energi inilah sebenarnya rahasia dibalik kata “unggul” itu. Dan inilah yang pantas disebut sebagai energi spitual dan natural.

Dua hal itulah kata kunci dari terciptanya manusia unggul. Karena profesionalitas merupakan sunnatullah dalam memahami ayat-ayat kauniyah. Sedang keikhlasan adalah sunnatullah untuk memperoleh ridha-Nya. Pada kedia bagian inilah kita mesti bermuhasabah seberapa jauh komitmen kita pada kualitas amal dan hati. Karena inilah kunci keunggulan itu.
Lalu bagaimana kiat agar menjadi pribadi yang unggul? Berikut ini beberapa di antaranya :
  1. Percaya diri, yakinkan bahwa kita ditakdirkan menjadi umjmat terbaik, lakukan amal terbaik
  2. Bangun sistem yang kondusif pilih lingkungan dan teman-teman yang berkualitas
  3. Mampu bersinergi (berjamaah)
  4. Manajemen qalbu mampu mengendalikan hati
Bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah kepada setiap diri hamba-hamba-nya.

Source: Tim Akademik Tutorial. Beriman Istiqomah Berislam Kaffah. Yogyakarta: Tim Tutorial Pendidikan Agama Islam. 2010, hlm. 74-77

Saturday, 7 January 2012

Berlomba dalam Kebaikan itu Wajib, Lho!

Wahai sahabat, masih ingatkan dengan firman Allah yang artinya berikut ini.

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepada-Nya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 148)

Dalam ayat tersebut terdapat kalimat fastabilqul khairat, yang artinya maka berlomba-lombalah kalian dalam hal-hal yang baik. Tuuuh, kan Allah menggunakan fi’il amr (kata perintah) istabiquu dalam ayat itu. Kalau kamu-kamu belajar ushul fiqh, di sana ada salah satu kaidah yang menyebutkan bahwa kata perintah mengandung makna kewajiban. Juga ada salah satu kaidah dalam ilmu Nahwu (Tata Bahasa Arab), kata istabiquu mengandung perintah yang ditujukan kepada orang banyak, dan ditambah lagi Allah menyebutkan ‘objek yang diperlombakan’ dengan menggunakan ism jama’, yaitu khairaat yang berarti berbagai jenis kebaikan.

Alamaak susah nian…! Enggak kok. Artinya perintah untuk berlomba dalam kebaikan itu wajib untuk semua orang, dan kebaikan yang pantas diraih itu dalam banyak hal serta banyak jenis. Teman-teman yang senantiasa fastabiqul khairaat pasti menanggapi kelebihan seseorang dengan positif. Jika kita bisa dan mampu, pasti kita akan berusaha lebih baik dalam bidang yang sama atau mencari bidang lain dan kemudian be the best untuk bidang yang kita pilih.

Sayang sekali deh, kalau kita membatasi diri dengan mengatakan, ah itu kan dia, itu karena dia pintar, punya fasilitas, ortunya kaya, de-el-el… yang akhirnya kita memberikan batasan-batasan sendiri atas kemampuan kita yang sebenarnya lebih. Itu namanya kalah sebelum bertanding, Saudara-saudaraku!

Kamu-kamu nggak mau menjadi pribadi yang seperti itu kan? Yuk, pantheng terus tulisan ini deh.

Dikutip : Jannah, Izzatul . The Winner or The Looser. Solo: Era Eureka. 2003, hlm. 13-15

Saturday, 29 October 2011

Kunci Ketenangan Batin

 Tidak ada penderitaan dalam kehidupan ini, kecuali orang-orang yang membuat dirinya sendiri menderita. Tidak ada kesulitan sebesar dan seberat apapun di dunia in, kecuali hasil dari buah pemikirannya sendiri.

Terserah kita, mau dibawa ke mana kehidupan ini. Mau dibawa sulit, niscaya segalanya akan sulit. Mau dibawa rumit, pastilah hidup ini akan senantiasa  terasa rumit. Perumitlah pikiran kita bila memang itu jalan yang disukai. Toh, semua akan tampak hasilnya dan tidak bias hanya kita sendiri yang harus merasakan dan menanggung akibatnya.

Akan tetapi, sekiranya kehidupan yang terasa sempit menghimpit hendak dibuat menjadi lapang, segalanya akan tampak rumit berbelit hendaknya dibuat menjadi sederhana, dan segalanya yang kelihatannya buram, kelabu, bahkan pekat gulita, hendaknya dibuat menjadi bening dan terang benderang, maka cobalah rasakan dampaknya.

Ternyata dunia ini tidak lagi tampak mengkerut, sempit menghimpit, dan carut-marut. Memandang kehidupan ini terasa seperti berdiri di puncak menara menatap langit biru nan luas membentang bertaburkan bintang gemintang, dengan semburat cahaya rembulan yang lembut menebar, menjadikan segalanya tampak lebih indah, lebih lapang dan amat mengesankan. Allahu Akbar !

Memang, “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, tetapi manusia itulah yang berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri” (QS Yunus [11]: 44). Padahal Dia telah tegas-tegas memberikan jaminan melalui firman-Nya, “Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (kesusahan)” (QS ath-Thalaq [65]: 7)

Dikutip : KH Abdullah Gymnastiar. 2001. Meredam Gelisah Hati. Bandung: Pustaka Grafika, hlm. 92